Berikan
aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10
pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.–Bung Karno
Secara formal, penegasan kemampuan pemuda mungkin dikenal melalui
kutipan Bung Karno dalam pidatonya. Akan tetapi, jauh sebelum itu pemuda
Indonesia sudah menampakkan eksistensinya melalui wadah-wadah pergerakan yang
berisi pelajar dan mahasiswa. Lahirnya Budi Oetomo pada tahun 1908 sebagai refleksi sikap kritis dan keresahan
intelektual mempelopori lahirnya wadah pergerakan mahasiswa yang lain.
Mohammad Hatta dan mahasiswa Indonesia lainnya yang sedang belajar di Neverland
Handelshogeschool Rotterdam mendirikan Indische Vereeningin yang kemudian
berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Menyusul kemudian Indische Partij
yang melontarkan propaganda kemerdekaan, dan lain-lain.
Pergerakan
mahasiswa dari zaman pra kemerdekaan kemudian berlanjut ke zaman pasca kemerdekaan,
orde lama dan orde baru yang kemudian menorehkan sejarah tersendiri. Jatuhnya
rezim Soeharto pada tahun 1998 tidak lepas dari peran serta mahasiswa. Kasus
AMARAH dan TRISAKTI menjadi saksi sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia. Saksi
sejarah yang kemudian mengantarkan mahasiswa ke posisi strategis yang
diperhitungkan oleh segala kalangan, mulai dari rakyat biasa sampai pemerintah.
Kampus kemudian menjadi rumah sakit bersalin yang mencatat kelahiran para
aktivis, intelektual dan pemimpin masa depan.
Pelan tapi
pasti, perjalanan waktu mencerminkan fungsi dan peranan mahasiswa yang semakin
melemah. Image pahlawan kemudian berganti dengan trouble maker, anarkis, statis dan lain-lain. Pergerakan yang
bergantung pada momentum kemudian menjadi salah satu penyebab mahasiswa tidak
mampu menjaga konsistensinya. Demo besar-besaran menanggapi sebuah kasus akan
surut seiring dengan pengalihan isu yang menenggelamkan kasus tersebut.
NKK/BKK
pada zaman orde lama yang melarang aktifitas politik di kalangan mahasiswa
menjadi pemicu sistem represif. Munculnya beragam kasus represifitas terhadap
mahasiswa juga menjadi salah satu penyebab stagnansi pergerakan mahasiswa baik
itu represifitas oleh pihak birokrat kampus maupun tuntutan akademik. Skorsing,
DO, pembekuan lembaga kemahasiswaan, sampai pada pemberhentian paksa kegiatan
mahasiswa adalah beberapa contoh represifitas yang dilakukan pihak birokrat
kampus.
Lain lagi dengan mahasiswa farmasi. Sebagai
fakultas dengan program studi eksakta, rutinitas tugas menjadi bentuk
pendidikan represif yang utama. Tuntutan akademik kemudian menjadi belenggu
yang membuat mahasiswanya hampir tidak mempunyai waktu untuk mempelajari bidang
ilmu lain terlebih untuk terjun ke lembaga. Bagaimana mau berlembaga kalau
waktu tidur saja ala kadarnya?
Berangkat dari keadaan tersebut, mari kita
coba menelaah posisi mahasiswa di masyarakat saat ini. Apakah keyakinan Bung
Karno akan kekuatan kaum muda masih bisa dipegang atau tidak. Terlebih lagi
jika dikaitkan dengan fungsi dan peranan mahasiswa sebagai Agent of Change,
Moral of Force dan Social of Control.
Akankah kehadiran sepuluh pemuda masih bisa
mengguncang dunia? Ataukah beralih fungsi seperti celetukan seorang
teman, “Berikan aku sepuluh pemuda niscaya akan kubuat boyband?” (*ann)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar