Sabtu, 05 Oktober 2013

12 MEI, 1988

Mengenang Elang Mulya, Hery Hertanto, Hendriawan Lesmana dan Hafidhin Royan

Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan dan simaklah itu sedu-sedan,
Mereka anak muda pengembara tiada sendiri, mengukir reformasi karena jemu deformasi, dengarkan saban ahri langkah sahabat-sahabatmu menderu-deru,
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu. Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu,
Tapi malaikat telah mencatata indeks prestasi kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan arteri sendiri,
Merah Putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi,
Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama, dan kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan..

Taufiq Ismail – 1998

Mahasiswa Dari Waktu Ke Waktu

Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.–Bung Karno
Secara formal, penegasan kemampuan pemuda mungkin dikenal melalui kutipan Bung Karno dalam pidatonya. Akan tetapi, jauh sebelum itu pemuda Indonesia sudah menampakkan eksistensinya melalui wadah-wadah pergerakan yang berisi pelajar dan mahasiswa. Lahirnya Budi Oetomo pada tahun 1908  sebagai refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual mempelopori lahirnya wadah pergerakan mahasiswa yang lain. Mohammad Hatta dan mahasiswa Indonesia lainnya yang sedang belajar di Neverland Handelshogeschool Rotterdam mendirikan Indische Vereeningin yang kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Menyusul kemudian Indische Partij yang melontarkan propaganda kemerdekaan, dan lain-lain.
Pergerakan mahasiswa dari zaman pra kemerdekaan kemudian berlanjut ke zaman pasca kemerdekaan, orde lama dan orde baru yang kemudian menorehkan sejarah tersendiri. Jatuhnya rezim Soeharto pada tahun 1998 tidak lepas dari peran serta mahasiswa. Kasus AMARAH dan TRISAKTI menjadi saksi sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia. Saksi sejarah yang kemudian mengantarkan mahasiswa ke posisi strategis yang diperhitungkan oleh segala kalangan, mulai dari rakyat biasa sampai pemerintah. Kampus kemudian menjadi rumah sakit bersalin yang mencatat kelahiran para aktivis, intelektual dan pemimpin masa depan.
Pelan tapi pasti, perjalanan waktu mencerminkan fungsi dan peranan mahasiswa yang semakin melemah. Image pahlawan kemudian berganti dengan trouble maker, anarkis, statis dan lain-lain. Pergerakan yang bergantung pada momentum kemudian menjadi salah satu penyebab mahasiswa tidak mampu menjaga konsistensinya. Demo besar-besaran menanggapi sebuah kasus akan surut seiring dengan pengalihan isu yang menenggelamkan kasus tersebut.
NKK/BKK pada zaman orde lama yang melarang aktifitas politik di kalangan mahasiswa menjadi pemicu sistem represif. Munculnya beragam kasus represifitas terhadap mahasiswa juga menjadi salah satu penyebab stagnansi pergerakan mahasiswa baik itu represifitas oleh pihak birokrat kampus maupun tuntutan akademik. Skorsing, DO, pembekuan lembaga kemahasiswaan, sampai pada pemberhentian paksa kegiatan mahasiswa adalah beberapa contoh represifitas yang dilakukan pihak birokrat kampus.
Lain lagi dengan mahasiswa farmasi. Sebagai fakultas dengan program studi eksakta, rutinitas tugas menjadi bentuk pendidikan represif yang utama. Tuntutan akademik kemudian menjadi belenggu yang membuat mahasiswanya hampir tidak mempunyai waktu untuk mempelajari bidang ilmu lain terlebih untuk terjun ke lembaga. Bagaimana mau berlembaga kalau waktu tidur saja ala kadarnya?
Berangkat dari keadaan tersebut, mari kita coba menelaah posisi mahasiswa di masyarakat saat ini. Apakah keyakinan Bung Karno akan kekuatan kaum muda masih bisa dipegang atau tidak. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan fungsi dan peranan mahasiswa sebagai Agent of Change, Moral of Force dan Social of Control.
Akankah kehadiran sepuluh pemuda masih bisa mengguncang dunia? Ataukah beralih fungsi seperti celetukan seorang teman, “Berikan aku sepuluh pemuda niscaya akan kubuat boyband?” (*ann)